Melihat kondisi tersebut, Dinas Kesehatan mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan daya tahan tubuh selama berada di pengungsian. Di tengah keterbatasan fasilitas, kesadaran menjaga pola hidup sehat menjadi benteng utama agar situasi tidak semakin memburuk.
“Imbauan kami agar pengungsi senantiasa menjaga kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, pola makan yang baik, dan tetap makan yang cukup,” katanya.
Sementara itu, situasi banjir di Pantura Pamanukan justru semakin mengkhawatirkan. Sejak Jumat (30/1/2026) dini hari, genangan air bukannya surut, tetapi meluas dan kian dalam. Ribuan warga panik dan terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Jika sebelumnya banjir dipicu luapan Sungai Cigadung dan Sungai Kalensema, kondisi kian parah setelah Sungai Cipunagara ikut meluap. Debit air yang melonjak drastis membuat sungai tak lagi mampu menampung aliran, hingga akhirnya meluber ke permukiman.
Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Air datang secara tiba-tiba pada malam hari, membuat banyak warga tak sempat menyelamatkan barang berharga mereka.
Sejak Kamis (29/1/2026) malam, warga berbondong-bondong mengungsi ke sejumlah titik yang dianggap lebih aman, seperti Masjid Al Mukhlisin Pamanukan Kota, Masjid Hidayatul Jariyah Desa Mulyasari, GOR Waluya Jaya, Aula Desa Pamanukan Kota, hingga kolong Jembatan Layang Pamanukan.
Di tengah genangan yang belum menunjukkan tanda-tanda surut, ancaman penyakit kini menjadi momok baru bagi para korban banjir Pantura Subang.






