Selain banjir, ancaman pohon tumbang juga menjadi perhatian serius BPBD Subang. Saat ini, BPBD tengah melakukan mitigasi vegetasi berupa perapihan pohon rawan tumbang di wilayah Kecamatan Cibogo, khususnya di sekitar PT Dahana yang merupakan objek vital nasional.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah kecelakaan, menjaga keamanan jalur distribusi, serta melindungi instalasi penting dan kabel utilitas.
“Keselamatan publik adalah prioritas. Pohon-pohon rawan ini harus ditangani sebelum menimbulkan korban atau gangguan aktivitas masyarakat,” ujar Asep.
Upaya mitigasi lainnya dilakukan melalui revitalisasi Situ Saeur di Kelurahan Sukamelang. Kegiatan ini mencakup pembersihan dan normalisasi fungsi situ sebagai penampungan air alami untuk mengurangi risiko genangan di kawasan permukiman.
Program ini melibatkan empat desa/kelurahan yang terdampak aliran air, dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan gotong royong terpadu.
“Kami ingin masyarakat ikut terlibat langsung. Mitigasi tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan pemerintah,” kata Asep.
Berdasarkan peta sebaran kejadian, Kecamatan Subang mencatat jumlah kejadian tertinggi dengan 82 kejadian, disusul Kecamatan Cisalak 24 kejadian dan Kecamatan Ciasem 18 kejadian. Wilayah utara seperti Blanakan dan Legonkulon juga tercatat memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi.
BPBD Subang menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi bencana sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, dinas teknis, BUMN, hingga pemerintah desa.
“Mitigasi ini bukan pekerjaan satu instansi. Butuh koordinasi yang kuat dan kesadaran bersama agar risiko bencana bisa ditekan,” pungkas Asep Sudrajat.






