SUBANG, BuletinJabar.com — Industri smartphone global diperkirakan akan menghadapi tekanan harga yang meningkat dalam beberapa bulan ke depan akibat kelangkaan chip semikonduktor, terutama komponen memori seperti DRAM dan NAND flash yang kini menjadi sangat langka dan mahal.
Tren ini dipicu oleh permintaan tinggi dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data yang menyedot pasokan chip, sehingga mengurangi ketersediaan bagi produsen smartphone. Boom teknologi AI, yang mendorong investasi besar-besaran dari perusahaan seperti Microsoft, Google, dan Nvidia dalam infrastruktur data center, menjadi salah satu pendorong utama ketatnya pasokan chip.
Menurut analis industri, permintaan untuk memori berperforma tinggi yang digunakan dalam server AI telah menyerap sebagian besar kapasitas produksi chip, sehingga DRAM dan NAND untuk perangkat konsumen menjadi semakin langka. Akibatnya, harga chip inti yang digunakan dalam smartphone meningkat tajam.
Beberapa laporan menunjukkan harga kontrak memori dapat naik 15–30% untuk DRAM dan bahkan lebih untuk flash storage dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini berpotensi berlangsung tiga hingga empat tahun, dengan puncaknya diperkirakan pada 2026–2027.
Kondisi meningkatnya biaya komponen membuat produsen terpukul dalam strategi harga jual perangkat mereka. Beberapa merek besar seperti Xiaomi telah mengakui bahwa biaya produksi smartphone naik akibat melonjaknya harga chip DRAM dan NAND, sehingga berdampak pada harga jual konsumen.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, dalam laporan keuangan terbaru perusahaan menyatakan bahwa tekanan pada biaya komponen diperkirakan akan membuat harga smartphone naik signifikan pada 2026, karena produsen kesulitan menyerap seluruh kenaikan biaya tanpa memindahkannya ke konsumen.






