“361 miliar TKD dipotong, dan pajak menjadi tumpuan Kabupaten Subang,” tegasnya.
Bahkan, menurutnya kondisi ini lebih berat dibanding masa pandemi. Meski demikian, Pemkab Subang tetap menjaga tiga sektor prioritas yaitu kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur jalan, agar tidak terdampak pemangkasan anggaran.Ia mengungkapkan bahwa tahun ini pemerintah menargetkan pembangunan jalan sepanjang 92 kilometer dengan nilai sekitar Rp230 miliar.
“92 kilometer jalan itu uangnya dari mana? Mungkin sekarang sudah terasa, uangnya dari pajak Bapak Ibu semuanya,” jelasnya.
Selain itu, anggaran Rp35 miliar disiapkan untuk perbaikan ruang kelas rusak berat serta peningkatan layanan kesehatan, yang seluruhnya bergantung pada kontribusi pajak masyarakat.Kang Rey juga menekankan pentingnya kinerja pemungutan di tingkat kecamatan dan desa.
“Wayahna, karena kondisi pemotongan TKD dari pusat, tulang punggung kita adalah Bapenda dan para camat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa evaluasi berbasis capaian akan diberlakukan pada akhir tahun.
“Akhir tahun ini akan jadi bahan evaluasi untuk tahun 2026. Biar fair,” kata Kang Rey.
Dalam kesempatan itu, ia kembali menegaskan integritas pemerintahannya.
“Saya pastikan sepeser pun pajak tidak pernah dipakai untuk kepentingan pribadi. Pajak yang dibayarkan akan kembali untuk masyarakat,” ucapnya.
Menutup sambutannya, Bupati menyampaikan optimisme terhadap pembangunan Subang ke depan, termasuk target jalan leucir rampung pada 2027, pembangunan RS Pantura pada 2028, serta pemerataan perbaikan ruang kelas dan sarana belajar pada 2029.
“Insya Allah apa yang kami cita-citakan bisa terwujud,” pungkasnya.
Acara Anugerah Pajak Daerah 2025 ditutup dengan penyerahan penghargaan bagi desa tercepat melunasi PBB-P2, para wajib pajak hotel, restoran, hiburan, air tanah, serta mitra PPAT dengan kontribusi terbesar yang menjadi dorongan bersama untuk menutup tahun dengan realisasi pajak yang optimal.






