“Enggak, itu mah suatu bisa mengambil hikmahnya. Bahwa tingkat kepekaan terhadap lingkungan harus mendapat perhatian,” pungkasnya.
Harapan yang Kandas Setelah 18 TahunBerbeda dengan nada pemerintah yang mencoba tenang, warga Cigebang justru merasakan kekecewaan mendalam. Bagi mereka, kabar pembangunan jembatan sebelumnya adalah secercah harapan setelah belasan tahun merasa terabaikan.
Dea Devita, salah seorang warga Cigebang Serangpanjang, mengungkapkan bahwa rencana pembangunan tersebut awalnya menjadi “angin segar” bagi masyarakat yang selama hampir dua dekade merasa dianaktirikan oleh pemerintah daerah.
“Pembangunan jembatan itu menjadi angin surga bagi kami setelah 18 tahun. 18 tahun lamanya tidak tersentuh Pemkab, pun desa atau kecamatan,” ujar Dea (23/01/26).
Menurut Dea, warga merasa sedih karena dampak dari kekecewaan Dedi Mulyadi terhadap pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat justru berujung pada terhentinya proyek tersebut. Ia menyayangkan sikap abai pemerintah daerah yang selama ini seolah menutup mata terhadap kebutuhan infrastruktur di wilayah mereka.
“Memang seharusnya ini menjadi bagian dari desa atau Pemkab. Tapi realitanya, mereka abai kepada jembatan kami,” lanjutnya.
Kini, di tengah ketidakpastian anggaran dan tarik-ulur kebijakan, warga hanya bisa berharap janji pembangunan tak kembali menjadi wacana yang menguap begitu saja.






