“Kami ini bukan semata mengejar untung, tapi memastikan masyarakat tercukupi pangannya dengan harga terjangkau,” ujarnya.
Meski demikian, Bulog tetap menjalankan usaha komersial sekitar 20 persen, termasuk beras premium, gula, tepung, daging, hingga pengoperasian Sentra Penggilingan Padi (SPP) di Rancaudik, Subang.
Di tengah capaian tersebut, Bulog Subang juga menghadapi tantangan serius seperti cuaca ekstrem yang memengaruhi kualitas gabah dan tingginya biaya penyimpanan.
“Saat musim hujan, banyak gabah terendam air sehingga harganya turun. Bulog harus siap menyerap agar tidak merugikan petani,” kata Djoko.
Ia menegaskan pentingnya menjaga kualitas stok melalui spraying bulanan, fumigasi tiga bulan sekali, serta perawatan ventilasi gudang.Menutup penjelasannya, Djoko menegaskan komitmen Bulog Subang untuk terus menjadi penyangga pangan rakyat.
“Tujuan kami jelas, menjaga stabilitas harga dan menjamin ketersediaan beras. Karena pangan adalah urusan hidup orang banyak,” tandasnya.






