SUBANG, BuletinJabar.com — Denting kendang yang menghentak, lenggak-lenggok gemulai penari Jaipong, serta lautan manusia yang memadati arena Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX menjadi pemandangan yang sulit dilupakan. Lebih dari sekadar perhelatan seni, festival budaya tahunan ini kembali membuktikan bahwa kebudayaan yang dikelola dengan serius mampu menjelma menjadi kekuatan sosial sekaligus ekonomi yang nyata.
Diselenggarakan oleh Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan, Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX mencatat partisipasi sekitar 3.700 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Angka tersebut menegaskan posisi festival ini sebagai salah satu agenda budaya berskala nasional yang diperhitungkan.
Girang Harta LAK Galuh Pakuan, Dewi Kandiaty Paramesti Tine Yowargana, yang akrab disapa Ting Ting, menegaskan bahwa Festival Galuh Pakuan Cup merupakan agenda rutin yang konsisten digelar untuk menjaga denyut kebudayaan Sunda, khususnya melalui kontes Tari Jaipong.
“Festival Galuh Pakuan Cup ini bukan sekadar perhelatan seni, tetapi ruang konsolidasi budaya dan ekonomi rakyat. Kami ingin kebudayaan hidup, bergerak, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Ting Ting di sela kegiatan.
Lonjakan Peserta, Ekonomi Lokal TerdongkrakAntusiasme peserta yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadi indikator kuat bahwa Festival Galuh Pakuan Cup telah menjelma menjadi magnet budaya nasional. Ribuan peserta hadir bersama pendamping, keluarga, dan komunitas seni, yang secara langsung menggerakkan roda ekonomi Subang.
Sektor penginapan, transportasi, kuliner, hingga pelaku UMKM merasakan dampak positif selama festival berlangsung. Menurut Ting Ting, perputaran ekonomi tersebut nyata dirasakan oleh masyarakat.
“Dengan ribuan orang datang ke Subang, tentu perputaran uang tidak kecil. Ini dirasakan langsung oleh warga, pedagang kecil, hingga pelaku jasa,” katanya.
Ia menambahkan, festival ini menjadi bukti bahwa kebudayaan tidak selalu harus bergantung pada suntikan dana besar dari negara. Dengan pengelolaan yang konsisten dan kepercayaan publik, budaya mampu berdiri sebagai kekuatan ekonomi yang mandiri.
Menjaga Identitas di Tengah Arus Modernisasi
Di tengah derasnya modernisasi, Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX juga berperan sebagai ruang penguatan identitas lokal. Jaipong, sebagai warisan budaya Sunda, tidak hanya ditampilkan sebagai tontonan, melainkan sebagai simbol jati diri yang terus dirawat lintas generasi.
“Ketika anak-anak dan remaja terlibat aktif dalam seni tradisi, sesungguhnya kita sedang membangun ketahanan budaya dan karakter bangsa,” ujar Ting Ting.






