Festival ini sekaligus menjadi ajang regenerasi seniman, tempat bakat-bakat muda diuji, diapresiasi, dan diperkenalkan ke panggung yang lebih luas.
Kerja Sunyi di Balik Panggung Megah
Di balik kemeriahan festival, tersimpan kerja keras panitia yang tidak ringan. Ketua Pelaksana Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX, Noviyanti Maulani Silviadi yang dikenal sebagai Ratu LAK Galuh Pakuan memimpin persiapan secara terkoordinasi dan matang, meski dihadapkan pada minimnya dukungan dari pemerintah daerah setempat.
Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkah. Dengan manajemen solid, jaringan budaya yang kuat, serta semangat gotong royong, festival tetap berjalan sesuai rencana dan bahkan melampaui ekspektasi dari sisi jumlah peserta maupun kualitas penyelenggaraan.
“Ini menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat sipil dan lembaga adat masih sangat besar. Ketika negara abai, budaya tidak boleh mati,” ujar Arbi Nuralamsyah, salah satu Koordinator Panitia.
Budaya sebagai Fondasi Pembangunan
Menutup rangkaian festival, Ting Ting menyampaikan pesan tegas agar kegiatan budaya tidak lagi dipandang sebagai acara seremonial semata. Menurutnya, budaya adalah fondasi peradaban sekaligus instrumen strategis pembangunan daerah.
“Budaya bukan pelengkap pembangunan. Budaya adalah ruhnya. Jika budaya diberi ruang dan kepercayaan, ia akan menjawab banyak persoalan termasuk ekonomi,” tegasnya.
Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX pun menegaskan satu hal penting: di tengah keterbatasan, kebudayaan yang dirawat secara konsisten mampu menjadi jangkar identitas sekaligus penggerak kesejahteraan masyarakat Subang dan Jawa Barat.






