Dalam forum tersebut, sektor manufaktur mendapat sorotan utama sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Pertumbuhan industri manufaktur yang konsisten, ditopang oleh peningkatan investasi dalam beberapa tahun terakhir, menegaskan perannya sebagai mesin penggerak ekonomi Indonesia.
Pada salah satu sesi diskusi, Abednego Purnomo, Vice President Sales, Marketing, and Tenant Relations PT Suryacipta Swadaya, memaparkan keterkaitan langsung antara pengembangan infrastruktur strategis dan minat investasi manufaktur.
“Selain variabel biaya, investor sangat mempertimbangkan aspek waktu tempuh. Oleh karena itu, pemilihan lokasi strategis sejak awal menjadi faktor determinan bagi efisiensi logistik secara menyeluruh. Kita patut mengapresiasi akselerasi pembangunan infrastruktur yang masif dalam beberapa tahun terakhir. Di Jawa Barat, misalnya, kehadiran jalan tol baru dan Pelabuhan Patimban telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan efisiensi logistik maritim,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran infrastruktur strategis nasional menjadi katalis utama pengembangan Subang Smartpolitan, kota mandiri terintegrasi yang mengusung konsep “Smart, Green, and Sustainable City.” Kawasan ini dirancang sebagai magnet investasi baru bagi sektor manufaktur dan komersial, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta rantai pasok global.
Forum di Seoul ini sekaligus menegaskan pesan bahwa Indonesia tidak hanya menawarkan peluang, tetapi juga kesiapan ekosistem dari kebijakan, infrastruktur, hingga kawasan industri untuk menyambut investasi berskala besar dari Korea Selatan dan dunia.






