Game Online Jadi Sarana Rekrutmen Teroris, BNPT Catat 112 Anak Jadi Korban

Game Online Jadi Sarana Rekrutmen Teroris, BNPT Catat 112 Anak Jadi Korban. (Foto: BuletinJabar.com)

Lebih lanjut, Eddy Hartono menyebut metode ini sebagai digital grooming, yakni membangun kedekatan emosional secara perlahan hingga anak merasa nyaman dan tertarik.

“Kalau bahasa sekarang Digital Grooming, yaitu membangun komunikasi lewat game online untuk merekrut supaya anak tertarik. Jadi jaringan terorisme ini masuk sebagai seolah-olah main game seumuran dengan dia,” katanya.

Bacaan Lainnya

Setelah korban merasa memiliki kesamaan hobi, pelaku kemudian menarik mereka keluar dari ruang game menuju grup percakapan tertutup.

“Setelah sama-sama satu hobi, tertarik dengan itu baru ditarik keluar. Masuk ke grup whatsapp, Telegram, barulah disitu dimasukan doktrin-doktrin,” imbuhnya.

BNPT menegaskan bahwa negara tidak tinggal diam. Bersama instansi pemerintah lainnya, BNPT telah melakukan penanganan terhadap 112 anak yang menjadi korban paham radikalisme dan terorisme.

“Pemerintah sudah membentuk tim koordinasi penanganan anak yang menjadi korban terorisme. Negara tidak hanya menghukum, tapi juga memulihkan,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, BNPT juga mengajak para orang tua untuk lebih aktif mengawasi aktivitas anak-anak, khususnya yang gemar bermain game online. Pengawasan dan komunikasi keluarga dinilai menjadi benteng awal agar anak-anak tidak terjerumus dalam paham radikalisme dan terorisme yang kini menyusup secara halus melalui ruang digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *