SUBANG, BuletinJabar.com — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil langkah keras terhadap Pemerintah Kabupaten Subang. Proyek pembangunan Jembatan di Serangpanjang, Subang senilai Rp6,5 miliar yang semula dijanjikan kepada warga resmi dibatalkan, menyusul temuan aktivitas tambang ilegal dan truk bermuatan berat yang merusak jalan provinsi di kawasan Ciater.
Keputusan tegas itu terungkap dalam rekaman percakapan telepon antara Dedi Mulyadi dan Sekda Subang Asep Nuroni, yang diunggah langsung oleh Dedi melalui akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, dan langsung menyedot perhatian publik.
Dalam percakapan tersebut, Dedi mengaku kecewa berat karena tidak mendapat laporan lanjutan dari Sekda Subang terkait penelusuran truk-truk besar yang melintas di Ciater. Merasa diabaikan, Dedi akhirnya turun langsung ke lapangan.
“Saya mengikuti sendiri sekarang dan akhirnya saya menemukan ini masih ngangkut di PT Agro, tambang ilegal, dan truknya ngaleut,” ujar Dedi dalam rekaman tersebut.
Jalan Rusak, Aparat Dinilai Tutup MataDedi menegaskan, sikapnya bukan sekadar emosional, melainkan bentuk tanggung jawab moral sebagai gubernur. Ia menilai aparat pemerintah daerah, dari tingkat desa hingga kecamatan, tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan fasilitas publik yang dibangun menggunakan anggaran Provinsi Jawa Barat.
“Saya tidak boleh Pemprov Jabar ngeluarin duit terus-terusan untuk membangun sebuah daerah yang tidak punya keinginan untuk menjaga,” tegasnya.
Menurut Dedi, jalan-jalan provinsi di Subang mulai dari arah Bandung, Pamanukan, Kalijati, Sagalaherang, hingga Kasomalang dibangun untuk kepentingan masyarakat luas. Namun, keberadaan truk tambang bermuatan berat yang dibiarkan melintas dinilai sebagai bentuk pembiaran yang fatal.
Puncak kekecewaan Dedi berujung pada keputusan drastis yaitu mencoret pembangunan Jembatan Serangpanjang yang sebelumnya sudah dialokasikan anggarannya dan direncanakan mulai dikerjakan pekan depan.






