Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor agar pengendalian inflasi berjalan efektif dan digitalisasi daerah terus diperkuat.
“Kegiatan ini sangat penting dalam rangka memperkuat sinergi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota serta para stakeholder, khususnya dalam penguatan program pengendalian inflasi serta percepatan dan perluasan digitalisasi untuk menjaga stabilitas harga pangan menjelang Bulan Suci Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2026,” ungkapnya.
Waspada Lonjakan PermintaanErwan menaruh harapan besar agar seluruh kepala daerah benar-benar serius mengawal stabilitas harga dan pasokan pangan di wilayah masing-masing.
“Saya berharap ada atensi dan keseriusan dari para kepala daerah untuk menjaga kestabilan harga dan ketersediaan pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2026,” ujarnya.
Ia mengingatkan, peningkatan konsumsi masyarakat yang selalu terjadi saat Ramadhan dan Idul Fitri bisa menjadi pemicu inflasi jika tidak dikendalikan dengan baik.
“Periode Ramadhan dan Idul Fitri selalu diiringi dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap bahan pangan dan kebutuhan pokok. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan inflasi,” pungkasnya.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan, Jawa Barat menargetkan kondisi harga pangan tetap stabil sehingga masyarakat bisa menjalani Ramadhan dan Idul Fitri 2026 dengan lebih tenang.






