Proses hukum tidak berhenti di penangkapan. Polisi kini menelusuri lebih jauh peran masing-masing anak, termasuk siapa yang membawa dan menggunakan senjata tajam. Pertanyaan serius pun muncul, dari mana anak-anak ini mendapatkan senjata? Apakah ada perantara dewasa? Atau ini bagian dari jaringan kekerasan remaja yang lebih luas?
Video korban yang lemas dengan pisau tertancap di dada beredar cepat di media sosial. Reaksi publik pun beragam, dari kemarahan, keprihatinan, hingga kritik terhadap lemahnya pengawasan orang tua dan sekolah.
Polisi mengingatkan bahwa ini harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak, termasuk orang tua, guru, bahkan komunitas lokal.
“Anak-anak ini punya akses ke media sosial, tapi tidak punya filter. Orang tua harus lebih peka terhadap aktivitas daring anak-anaknya,” imbau AKP Bagus.
Kini, proses hukum terus berjalan. Meski pelaku adalah anak di bawah umur dan dilindungi UU, namun negara tidak akan tinggal diam. Kekerasan seperti ini tidak bisa ditoleransi apapun motifnya.






