Ramadan Mengubah Jalan Hidup, Kisah Haru Santri Yatim dan Mantan Anak Jalanan di Pondok Pesantren Kebangsaan Siti Aminah Subang

Aktivitas belajar di Ponpes Kebangsaan Siti Aminah. (Foto: BuletinJabar.com)

SUBANG, BuletinJabar.com — Bulan suci Ramadan selalu menjadi momentum untuk mempertebal iman dan memperbaiki diri. Di sudut sejuk pedesaan Kabupaten Subang, Jawa Barat, semangat itu terasa begitu nyata di Pondok Pesantren Kebangsaan Siti Aminah.

Berlokasi di Kampung Cigore, Desa Tenjolaya, Kecamatan Kasomalang, pesantren ini menghadirkan konsep berbeda dari kebanyakan pondok pesantren. Tak hanya mengajarkan ilmu agama, para santri yang sebagian besar merupakan yatim piatu dan mantan anak jalanan juga dididik untuk mandiri dengan bertani hingga beternak.

Bacaan Lainnya

Suasana asri khas pedesaan menyambut setiap langkah yang memasuki kawasan pesantren. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan perjuangan dan harapan baru bagi anak-anak yang pernah hidup dalam kerasnya jalanan.

Tak Hanya Mengaji, Santri Ditempa Jadi Pribadi Mandiri
Di pesantren ini, para santri tak hanya bergelut dengan kitab kuning. Mereka dibiasakan menyiapkan hidangan berbuka puasa dengan memasak sendiri. Seusai belajar, sebagian turun ke ladang, menanam sayuran, sementara lainnya memberi pakan dan merawat kambing ternak.

Pimpinan Ponpes, KH Muhammad Abdul Mukmim, menegaskan bahwa pendidikan kemandirian menjadi bagian penting dalam pembinaan karakter santri.

“Kami ingin anak-anak ini tidak hanya kuat secara agama, tapi juga siap menghadapi kehidupan. Mereka harus punya bekal keterampilan agar bisa bertahan hidup dan bermanfaat bagi masyarakat setelah lulus nanti,” ujar KH Abdul Mukmim.

Menurutnya, pengalaman hidup para santri yang beragam justru menjadi alasan kuat untuk membekali mereka dengan kemampuan nyata.

“Sebagian dari mereka pernah hidup di jalanan. Di sini kami rangkul dengan kasih sayang, kami ajarkan disiplin dan tanggung jawab. Tidak ada kata terlambat untuk berubah,” katanya.

Rumah Kedua bagi Anak Yatim dan Mantan Anak Jalanan
Yang membuat pesantren ini begitu menyentuh hati adalah latar belakang mayoritas santrinya. Banyak di antara mereka merupakan anak yatim piatu. Sebagian lainnya pernah tergabung dalam geng motor dan menjalani kehidupan keras di jalanan.
Namun di sini, mereka mendapatkan kesempatan kedua, tanpa dipungut biaya sepeser pun.

“Kami tidak memungut biaya. Kalau ada yang ingin membantu atau membayar, kami terima seikhlasnya. Prinsip kami, jangan sampai anak-anak ini kehilangan haknya untuk belajar hanya karena masalah biaya,” tegas KH Abdul Mukmim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *