Ramadan Mengubah Jalan Hidup, Kisah Haru Santri Yatim dan Mantan Anak Jalanan di Pondok Pesantren Kebangsaan Siti Aminah Subang

Aktivitas belajar di Ponpes Kebangsaan Siti Aminah. (Foto: BuletinJabar.com)

Rafi Akbar, santri asal Depok, mengaku kehidupannya berubah sejak mondok di sini.

“Dulu saya sering salah pergaulan. Di sini saya belajar agama, belajar sabar, juga belajar bertani dan beternak. Saya ingin jadi orang yang lebih baik dan bisa membanggakan orang tua,” ungkap Rafi dengan mata berkaca-kaca.

Bacaan Lainnya

Hal serupa dirasakan Devi Puspitasari, santriwati asal Bandung. Ia mengaku menemukan keluarga baru di pesantren tersebut.

“Di sini saya merasa diterima. Kami diajarkan mandiri, masak sendiri, kerja di kebun. Rasanya capek, tapi senang karena jadi punya kemampuan. Saya ingin suatu hari nanti bisa buka usaha sendiri,” tuturnya.

Ramadan, Momentum Hijrah dan Harapan Baru
Di bulan yang penuh rahmat ini, aktivitas para santri semakin terasa khidmat. Selepas bekerja di ladang, mereka kembali ke mushala untuk mengaji dan memperdalam ilmu agama.

Ramadan di Pondok Pesantren Kebangsaan Siti Aminah bukan sekadar tentang puasa. Ia menjadi simbol perjalanan hijrah dari kehidupan kelam menuju masa depan yang lebih terang.

Di tengah segala keterbatasan, pesantren ini membuktikan bahwa setiap anak, siapa pun latar belakangnya, berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri serta bermanfaat bagi sesama.

Di Kampung Cigore yang tenang itu, harapan-harapan kecil terus disemai tumbuh bersama tanaman di ladang dan doa-doa yang melangit setiap malam Ramadan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *