Terkait mekanisme bantuan pusat, Heri menjelaskan bahwa pihaknya kini menggunakan program Revit (Revitalisasi) sebagai pengganti program lama, yaitu DAK.
“Untuk Revit itu kan verifikasi dan menentukan yang berhak sekolah menerima dan tidaknya itu langsung dari pusat. Kita hanya mengajukan sekolah-sekolah yang dikategorikan rusak itu ke pusat,” jelas Heri.
Ia menargetkan pada tahun 2026, sekitar 20 persen dari total ruang kelas yang rusak dapat terselesaikan. Heri pun optimistis target pembangunan akan tercapai dengan adanya kolaborasi antara APBD dan dana pendamping lainnya.
Kerusakan ruang kelas yang cukup signifikan saat ini paling banyak tersebar di tingkat Sekolah Dasar (SD) di berbagai wilayah Subang. Menanggapi hal tersebut, Heri mengajak para “Inohong” pendidikan di Subang untuk tetap bersinergi dalam mengawal proses pembangunan ini.
“Sekarang fokus semua ke sarana prasarana, direhab kelas dan mebeler yang diutamakan. Saya yakin dengan perangkat yang ada, kepemimpinan Pak Bupati Reynaldi ini bakal tuntas,” pungkas Heri. (YHJ)






