SUBANG, BuletinJabar.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Subang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Dalam kurun waktu empat bulan pertama tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Subang mencatat sebanyak 704 kasus DBD dengan satu kasus kematian yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Ciasem.
Tingginya angka kasus tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Subang melalui Dinas Kesehatan menjadikan pengendalian DBD sebagai salah satu prioritas utama dalam program kesehatan masyarakat tahun ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Dwinan, mengungkapkan bahwa ratusan kasus tersebut merupakan akumulasi data sejak Januari hingga April 2026.
“Sebanyak 704 kasus DBD ini merupakan data yang tercatat sejak Januari sampai April 2026,” ujar dr. Dwinan belum lama ini.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman nyata yang memerlukan perhatian dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam upaya pencegahan maupun penanggulangannya.
Dari total kasus yang tercatat, satu pasien dilaporkan meninggal dunia. Kasus kematian tersebut terjadi di wilayah kerja Puskesmas Ciasem.
“Subang sebenarnya sudah masuk kategori tinggi untuk kasus DBD. Karena itu, kami fokus melakukan berbagai langkah pencegahan dan pemberantasan penyakit ini agar tidak terus meningkat,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Subang terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Upaya tersebut dinilai menjadi cara paling efektif untuk mencegah berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi penyebab utama penyebaran DBD.
Selain menerapkan pola hidup bersih dan sehat, masyarakat juga diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan serta aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Dinas Kesehatan juga terus mengampanyekan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Masyarakat juga diingatkan untuk melakukan berbagai langkah perlindungan tambahan guna menghindari gigitan nyamuk, terutama pada waktu-waktu rawan aktivitas nyamuk penyebab DBD.
Dengan masih tingginya angka kasus pada awal tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Subang berharap kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dapat terus ditingkatkan. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan warga dinilai menjadi kunci penting dalam menekan angka penyebaran DBD yang hingga kini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan utama di Kabupaten Subang.






