SUBANG, BuletinJabar.com — Kemarau ternyata tidak selalu menjadi persoalan bagi Perumda Air Minum Tirta Rangga Subang (Perumda TRS). Di tengah menurunnya debit Sungai Cikembang dan Citombe, kondisi air baku yang digunakan untuk produksi air bersih justru cenderung lebih bening.
Kondisi berbeda terjadi ketika hujan turun. Air sungai dapat berubah menjadi sangat keruh sehingga proses pengolahan menjadi lebih berat.
Hal tersebut menjadi salah satu tantangan Perumda TRS dalam mengoperasikan Unit Pengolahan Air (UPA) Tanjungsiang di Desa Buniara, Kecamatan Tanjungsiang.
Menurut Dirut Perumda TRS Lukman Nurhakim, UPA Tanjungsiang mengolah air baku dari Sungai Cikembang dan Citombe dengan kapasitas maksimal sekitar 30 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2.500 pelanggan di Tanjungsiang dan wilayah sekitarnya.
“Kemarau itu sebenarnya kualitasnya bening bagi kami. Saat hujan, keruhnya ekstrem. Kami biasanya kesulitan ketika musim hujan karena sungainya sangat keruh,” ujarnya, Kamis (17/9/2026).
Dengan kondisi tersebut, tantangan pengolahan air tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak air yang tersedia, tetapi juga oleh perubahan karakteristik air baku dari sungai.
Saat kemarau, Lukman menjelaskan, debit air memang mengalami penyusutan cukup signifikan. Namun, air yang masuk ke instalasi pengolahan relatif lebih bening sehingga proses pengolahan masih dapat dilakukan.






