Sebaliknya, hujan deras dapat meningkatkan kekeruhan sungai secara ekstrem. Kondisi ini membuat proses pengolahan membutuhkan perhatian dan penanganan lebih untuk memastikan air hasil produksi tetap memenuhi standar pelayanan.
Perubahan kondisi sungai tersebut juga disebut cukup terasa jika dibandingkan dengan lima hingga sepuluh tahun lalu.
Perumda TRS melihat perubahan kondisi alam di wilayah sekitar sungai turut berpengaruh terhadap debit maupun kualitas air baku.
Saat ini, perhatian perusahaan tidak hanya tertuju pada penurunan debit akibat kemarau, tetapi juga pada perubahan kualitas air yang dapat terjadi ketika pola cuaca berubah.
“Kalau melihat hari ini, debitnya berkurang. Bisa sampai sekitar 60 persen,” katanya.
Meski kualitas air baku saat kemarau relatif lebih bening, berkurangnya debit tetap menjadi perhatian karena sumber air UPA Tanjungsiang masih sangat bergantung pada sungai alam.
Lukman menambahkan, pihaknya pun terus memantau kondisi Sungai Cikembang dan Citombe untuk menjaga proses produksi air bersih tetap berjalan, sekaligus mengantisipasi perubahan kualitas maupun kuantitas air baku.
“Untuk kondisi produksi ini masih cukup, hanya memang kondisinya cukup mengkhawatirkan. Kami waspada dan siaga kalau debit terus menurun,” pungkasnya. (YHJ)






