SUBANG, BuletinJabar.com — Paparan abu vulkanik dari aktivitas erupsi kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan pernapasan masyarakat sekitar. Merespons situasi ini, Dokter Spesialis Paru RSUD Subang, dr. Aprilia Katarina, Sp.P, memberikan penjelasan medis terkait dampak abu vulkanik serta panduan keselamatan yang harus segera diterapkan.
Ancaman Partikel dan Kelompok Rentan
- Abu vulkanik membawa partikel mikroskopis yang sangat kecil sehingga mampu menembus saluran pernapasan hingga ke bagian paru yang paling dalam.
- Masuknya partikel ini dapat mengakibatkan iritasi parah pada area hidung, tenggorokan, dan keseluruhan saluran pernapasan.
- Kelompok prioritas yang sangat rentan terhadap bahaya ini adalah anak-anak dan kelompok lanjut usia (lansia).
- Selain itu, penderita komorbiditas atau penyakit penyerta pernapasan seperti asma maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) juga memiliki risiko tinggi.
Deteksi Gejala dan Perlindungan Masker
- Masyarakat dapat mendeteksi paparan melalui gejala fisik awal seperti mata yang terasa perih, hidung berair atau tersumbat, serta rasa sakit, nyeri, dan gatal pada tenggorokan.
- Gejala pernapasan lanjutan meliputi batuk, nyeri dada, hingga sesak napas yang sering kali ditandai dengan bunyi mengi.
- Sebagai langkah pencegahan optimal, dr. Aprilia mengarahkan warga yang berada di zona terdampak langsung untuk mengenakan masker khusus N95.
- Sementara itu, masyarakat di wilayah yang tidak terdampak secara langsung dapat menggunakan masker bedah standar.
Tanda Bahaya Medis (Kapan Harus ke Dokter)
- Terjadinya sesak napas yang berskala berat atau kondisinya terus memberat seiring waktu.
- Gejala batuk atau mengi yang sama sekali tidak membaik meskipun pasien telah sepenuhnya dihindarkan dari paparan abu vulkanik.
- Tanda-tanda kekurangan oksigen yang terlihat dari warna kebiruan pada bibir dan ujung jari-jari.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda penurunan kesadaran secara mendadak.
- Penderita asma atau PPOK yang mengalami serangan yang memberat secara signifikan.
Menutup arahannya, dr. Aprilia Katarina kembali mengingatkan masyarakat untuk selalu berpedoman pada arahan otoritas kesehatan dan melakukan pembatasan mobilitas fisik di ruang terbuka. “Hindari aktivitas di luar yang tidak perlu, gunakanlah masker yang sesuai, dan lihat informasi penting yang disampaikan oleh informasi resmi,” tegas dr. Aprilia.






