“Alhamdulillah dengan ditetapkannya As-Syifa menjadi Sekolah Garuda, kita ingin Sekolah masa depan bukan hanya tentang teknologi dan fasilitas modern. Yang lebih penting adalah bagaimana lembaga pendidikan mampu membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, memiliki leadership, dan tetap kuat secara spiritual,” ujarnya.
Menurut Abdurahim, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang bergerak sangat cepat menuntut dunia pendidikan menjadi lebih adaptif. Namun demikian, pendidikan tetap harus menjadi ruang pembentukan moral dan kepribadian peserta didik.
“Penguasaan sains dan teknologi harus berjalan seiring dengan pembinaan iman, adab, dan kepedulian sosial. Di As-Syifa, kami ingin melahirkan generasi yang siap bersaing secara global, tetapi tetap memiliki identitas dan nilai keislaman yang kuat,” katanya.
Di tengah arus globalisasi dan disrupsi digital, pendekatan pendidikan berbasis karakter dinilai semakin relevan. Banyak pihak menilai kualitas sumber daya manusia masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga integritas moral, kemampuan adaptasi, dan kecakapan sosial.
Karena itu, kehadiran Program Sekolah Garuda dinilai menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi pemerintah dengan sekolah-sekolah unggulan yang telah memiliki rekam jejak panjang dalam membangun pendidikan berkualitas.
As-Syifa menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan modern dapat berjalan beriringan dengan nilai religius dan pembentukan karakter. Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif, model pendidikan seperti ini diyakini akan semakin dibutuhkan dalam menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045.
“Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian, dan kemampuan memimpin. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang utuh,” tutur Abdurahim.






