SUBANG, BuletinJabar.com – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, memberikan teguran keras kepada jajaran pimpinan Bank bjb (BPD Jabar) karena rendahnya realisasi penyaluran Kredit Program Perumahan bagi masyarakat. Kinerja bank kebanggaan Jawa Barat ini dinilai merosot tajam dibandingkan tahun sebelumnya dan kini tertinggal jauh dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) provinsi lain.
Kekecewaan tersebut disampaikan langsung oleh Maruarar di hadapan Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat yang juga bertindak sebagai Komisaris Bank BJB di Aula Pemkab Subang, Senin (5/10/2026). Berdasarkan data peringkat penyaluran KUR Perumahan, BPD Jabar yang sempat menduduki peringkat pertama pada periode akhir tahun 2025, kini anjlok ke peringkat empat di tahun 2026.
“Tahun lalu pernah juara satu. Sekarang sama Bank Bali kalah, sama Bank Jawa Tengah kalah, sama Bank Jawa Timur kalah,” tegas Maruarar mengkritik kinerja Bank BJB. Ia sangat menyayangkan hal ini karena Jawa Barat memiliki potensi masyarakat dan UMKM yang sangat besar.
Kritik tajam Menteri PKP ini didukung oleh sebuah tayangan data presentasi yang memaparkan peringkat penyaluran Kredit Program Perumahan. Berdasarkan gambar tersebut, berikut adalah perbandingan kinerja Bank BJB di tahun 2025 dan 2026:
- Periode 2025 (21 Oktober – 31 Desember): BPD Jabar menempati urutan pertama dengan realisasi penyaluran mencapai Rp 25.935.000.000 untuk 32 debitur.
- Periode 2026 (1 Januari – 3 Oktober): BPD Jabar merosot ke posisi empat dengan target penyaluran Rp 500 miliar untuk 1.286 debitur. Namun, realisasinya baru menyentuh Rp 90.702.000.000 dari 179 debitur.
- Sebagai perbandingan di tahun 2026, BPD Jawa Tengah memimpin di urutan pertama dengan target Rp 1,5 triliun (3.600 debitur) dan telah merealisasikan Rp 1,33 triliun untuk 2.942 debitur.
Maruarar pun membandingkan langsung pencapaian Bank BJB dengan Bank Jateng. “Target 2026, Bank Jateng targetnya 1,5 triliun. Hari ini sudah 1,3 triliun,” ujar Maruarar. Ia mengingatkan agar Bank BJB tidak hanya mengandalkan dana captive (dana mengendap) dari lingkungan Pemda. “Nanti akhirnya Bank Jabar hanya jadi penonton, karena bank-bank lain yang masuk ke Jawa Barat,” sentil Maruarar.






