SUBANG, BuletinJabar.com — Menjadi orang tua bukan hanya soal mengurus anak, tetapi juga beradaptasi dengan perubahan rutinitas, tuntutan pekerjaan, rumah tangga, hingga ekspektasi untuk selalu menjadi orang tua yang “sempurna”. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat memicu parental burnout atau kelelahan dalam menjalani peran sebagai orang tua.
RSUD Subang melalui edukasi Parenting Stres mengingatkan para orang tua agar tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan mental. Sebab, berbeda dengan lelah fisik yang bisa membaik setelah tidur atau beristirahat, kelelahan mental dapat terasa menetap dan memengaruhi emosi, perilaku, hingga hubungan orang tua dengan anak.
Bagi para new parents yang sedang berada dalam fase adaptasi, kondisi ini perlu menjadi perhatian. Orang tua tidak harus selalu menjadi “super parent” yang mampu menjalankan semuanya dengan sempurna.
Rumah yang sesekali berantakan, makanan anak yang sederhana, atau rutinitas yang tidak berjalan sesuai rencana bukan berarti seseorang gagal menjadi orang tua.
Kenali tanda parental burnout
Dalam materi edukasinya, RSUD Subang mengajak orang tua mengenali sejumlah tanda yang patut diperhatikan.
Pertama, mudah marah atau memiliki sumbu pendek. Hal-hal kecil seperti susu tumpah atau anak yang sedikit rewel dapat memicu ledakan emosi. Setelah marah, orang tua bahkan bisa merasa sangat bersalah.
Kedua, muncul mati rasa secara emosional (emotional detachment). Orang tua tetap melakukan berbagai kewajiban seperti memandikan, memberi makan, dan mengurus anak, tetapi merasa seperti “robot” karena tidak lagi merasakan koneksi atau kebahagiaan dalam rutinitas tersebut.
Tanda lain dapat berupa keluhan fisik, seperti sakit kepala, sakit punggung, gangguan pencernaan, hingga masalah tidur. Ada pula keinginan untuk “kabur”, pergi jauh, meninggalkan rumah, atau perasaan terjebak dalam peran sebagai orang tua.
RSUD Subang juga mengingatkan untuk membedakan lelah biasa dengan burnout. Jika tidur semalaman membuat tubuh kembali segar, kemungkinan itu merupakan kelelahan biasa. Namun, apabila rasa lelah tetap terasa meskipun sudah beristirahat, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih.






